Kecerdasan Buatan "Nemesis Assai" Endus Aroma Tak Sedap Anggaran Rp12,8 Miliar di Gedung DPRD Morowali

Dashboard AI Nemesis Assai mendeteksi anomali anggaran pengadaan peralatan studio senilai Rp12,8 Miliar di Sekretariat DPRD Morowali (TA 2026).

April 26, 2026 - 17:16
 0  5
Kecerdasan Buatan "Nemesis Assai" Endus Aroma Tak Sedap Anggaran Rp12,8 Miliar di Gedung DPRD Morowali
Peta Artifact hasil analyze Nemesis Assai

Bungku Tengah – Praktik pengawasan anggaran negara kini memasuki babak baru dengan kehadiran Nemesis Assai, sebuah sistem kecerdasan buatan (AI) yang mampu membedah jutaan data pengadaan pemerintah dalam hitungan detik. Dikembangkan oleh AI engineer kenamaan Indonesia, Abil Sudarman, sistem ini baru saja memberikan peringatan merah terkait sebuah paket pengadaan bernilai fantastis di Kabupaten Morowali.

Temuan "High Risk" di Sekretariat DPRD

Berdasarkan pindaian algoritma Nemesis Assai terhadap data portal SiRUP LKPP, ditemukan paket berkode RUP 64252368 yang dikelola oleh Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Morowali. Paket yang direncanakan untuk Tahun Anggaran 2026 ini memiliki judul "Belanja Modal Peralatan Studio Video dan Film" dengan total pagu mencapai Rp12.891.919.544.

Sistem memberikan kategori risiko "High" (Tinggi) karena adanya ketidakwajaran antara deskripsi pekerjaan dengan nilai anggaran yang diusulkan.

Layar Raksasa dan Kejanggalan Spesifikasi

Dalam rincian paket tersebut, anggaran belasan miliar rupiah itu dialokasikan untuk pengadaan sejumlah perangkat visual kelas berat, di antaranya:

Nemesis Assai mendeteksi bahwa alokasi anggaran sebesar Rp12,8 miliar untuk satu titik satuan kerja daerah (DPRD) dianggap sebagai anomali statistik jika dibandingkan dengan kebutuhan fungsional rata-rata kantor pemerintahan serupa di wilayah lain.

Nemesis Assai: Sang "Anjing Pelacak" Anggaran

Abil Sudarman menjelaskan bahwa Nemesis Assai bekerja dengan mengelompokkan potensi kejanggalan ke dalam tiga kategori: Medium, High, hingga yang paling ekstrem, Absurd. Kasus di Morowali ini masuk ke dalam radar pengawasan karena besarnya nilai pagu untuk item yang bersifat konsumtif/elektronik di tingkat daerah.

"Sistem ini kami rancang untuk mempermudah masyarakat dan auditor melihat apa yang tersembunyi di balik tumpukan data. AI kami mampu mendeteksi mulai dari pengadaan kendaraan mewah, tanaman hias miliaran rupiah, hingga paket yang judulnya tidak masuk akal," ujar Abil.

Validasi Manusia Tetap Utama

Meskipun AI telah memberikan sinyal peringatan dini (early warning system), Abil menekankan bahwa setiap temuan Nemesis Assai tetap memerlukan proses verifikasi manusia. Langkah ini penting untuk menjaga akurasi dan memastikan konteks kebutuhan di lapangan sebelum diambil tindakan hukum atau administratif lebih lanjut.

Kehadiran teknologi ini menjadi peringatan bagi setiap instansi pemerintah bahwa setiap rupiah yang dianggarkan kini tidak hanya diawasi oleh manusia, tetapi juga oleh algoritma yang tidak pernah tidur.