Ramalan Terlarang Abendanon: Mengapa Kekayaan Nikel Bungku Sempat Disembunyikan Selama 40 Tahun?
Penemuan nikel di Bungku diperkirakan sejak 1909, tetapi disembunyikan selama 40 tahun.
BUNGKU TENGAH – Jauh sebelum wilayah Morowali dan Bungku menjadi pusat industri nikel global, para peneliti geologi era kolonial telah memprediksi kekayaan mineral di wilayah ini sejak satu abad silam. Berdasarkan catatan sejarah geologi Sulawesi sebelum tahun 1930, penemuan potensi nikel ini bermula dari ekspedisi menantang di pedalaman Pegunungan Verbeek.
Penemuan Pertama di Pegunungan Verbeek
Potensi nikel di wilayah ini pertama kali diidentifikasi secara sistematis oleh insinyur pertambangan Belanda, E.C. Abendanon, selama "Ekspedisi Midden-Celebes" pada tahun 1909-1910. Dalam perjalanannya menembus Sulawesi Tengah hingga ke wilayah timur, Abendanon menemukan adanya bijih besi dan nikel-kromium pada zona pelapukan laterit di batuan ultramafik dekat Danau Towuti dan Danau Matano.
Kawasan tersebut kemudian ia namakan Pegunungan Verbeek. Melalui analisis kimia yang dilakukan oleh Prof. S.J. Vermaes dari TH Delft, terbukti bahwa sampel yang dibawa Abendanon memiliki kandungan nikel yang signifikan secara komersial.
Prediksi yang Sempat Diragukan
Pada tahun 1917, Abendanon menulis dalam jurnal De Ingenieur sebuah pernyataan yang sangat berani pada masanya:
"Volume bijih nikel di Pegunungan Verbeek akan membuat Hindia Belanda menjadi salah satu negara penghasil nikel terkaya di dunia."
Meskipun saat itu klaimnya sempat dibantah oleh sesama insinyur pertambangan, data Abendanon memicu pemerintah kolonial melalui Dienst van het Mijnwezen untuk melakukan survei evaluasi deposit nikel secara lebih intensif antara tahun 1917 hingga 1922 melalui proyek GMO Verbeekgebergte.
Ekspedisi L. von Loczy di Boengkoe Utara
Memasuki akhir 1920-an, fokus penelitian bergeser ke arah timur ( Bungku ). Ahli geologi asal Hongaria, L. von Loczy, melakukan pemetaan penting di daerah Boengkoe Utara dan sepanjang Sungai Bongka pada tahun 1928.
Dalam laporannya yang dipublikasikan tahun 1934, Von Loczy mencatat temuan krusial bahwa sekitar 70% wilayah Boengkoe Utara ditutupi oleh ofiolit (peridotit, serpentinit, dan gabro). Ia mengidentifikasi bahwa lembaran ultramafik besar ini terlipat di atas sedimen laut Mesozoikum. Kehadiran batuan ofiolit inilah yang secara geologis menjadi syarat utama terbentuknya cadangan nikel laterit yang melimpah di wilayah Bungku hingga saat ini.
Warisan Geologi untuk Masa Depan
Data dari Van Gorsel menunjukkan bahwa penyelidikan geologi di Sulawesi sempat mengalami "mati suri" atau dormansi selama hampir empat dekade setelah tahun 1930 akibat krisis ekonomi global dan perang.
Baru pada tahun 1970-an, pemetaan sistematis dilanjutkan oleh Survei Geologi Indonesia dan perusahaan internasional. Namun, fondasi pengetahuan yang diletakkan oleh Abendanon dan Von Loczy di wilayah Bungku dan Pegunungan Verbeek tetap menjadi rujukan utama yang membuktikan kebenaran teori mereka tentang kekayaan mineral di Lengan Timur Sulawesi.
Kini, wilayah yang dahulu hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dan kompas oleh para pionir tersebut, telah bertransformasi menjadi pilar utama ekonomi mineral Indonesia, persis seperti yang dibayangkan Abendanon 110 tahun yang lalu.
Data Referensi:
-
Van Gorsel, J.T. (Han), 2022. Investigasi Geologi Sulawesi Sebelum 1930.
-
Von Loczy, L., 1934. Geologi Boengkoe Utara dan daerah Bongka.
-
Abendanon, E.C., 1915-1917. Midden Celebes Expeditie.